Ini Hanya Sekadar Puing Yang Teronggok. Namun Menjadi Saksi, Farizah Wafat Melindungi Adiknya.. Kisah dibalik puing itu telah menjadi saksi penuh makna, hingga menjadi pelajaran bagi kita yang masih hidup sampai saat ini. Dibawah puing ini Fazirah umur 15 th kelas 3 SMP wafat dalam kondisi menyelamatkan dan melindungi adiknya tercinta Fanesa 13 tahun. Fazirah dalam kondisi telungkup melindungi sang adik, dengan punggung seolah menahan puing yang menimpa mereka. Ketika kejadian gempa, Ayah dan ibu mereka masih di tempat pekerjaan. Berulang kali Ayah Ibu berteriak di lokasi rumah yang luluh lantak. Tak ada jawaban. Semua hening dalam gelap. Mereka tak putus asa terus berteriak. Tiba-tiba Fanesa sang adik menyahut dengan suara amat lemah “Saya disini Ma..” Malam itu juga puing-puing digali di sumber suara. Fanesa selamat dalam pelukan kakak tercinta yang menghadap Robb-Nya. Banyak keajaiban yang terjadi. Yang secara akal manusia tak kan mungkin ada yang selamat. Namun Allah Maha Segalanya. Fanesa bertutur bahwa “kayak ada yang menahan dinding itu” Adapun Almarhum Fazirah adalah anak yang pendiam, pemalu dan rajin mengaji. Seminggu sebelum kejadian tersebut, Fazirah menyampaikan kepada ibunya bahwa dia bermimpi sedang berada di Mekah, di tanah yang luas dan indah. Fazirah merengek ingin ke Mekah. Bu Erni, ibunda dari Fazirah dan Fanesa. Keseharian beliau adalah menjaga dagangan milik adiknya di sebuah Gili/Pulau, dilanjutkan . malam hari mengerjakan jahitan permak baju dan sejenisnya di rumahnya. Suaminya juga bekerja di Gili. Dengan wajah sendu Bu Erni menunjukan kepada saya mesin jahit miliknya yang sudah hancur tidak bisa digunakan lagi. Seperti umumnya penyintas gempa hingga saat ini sebagian besar belum bisa menghasilkan pendapatan apapun. Namun roda ekonomi harus tetap bergerak. Ekonomi mereka harus segera di tumbuhan. Mereka pun tak ingin selalu mengandalkan bantuan. Laz Harfa memberikan satu set alat jahit untuk Ibunda Fazirah. Selain sebagai upaya agar keluarga tersebut dapat memiliki penghasilan kembali, ini juga sebagai sarana beliau untuk trauma healing, melupakan duka, menghadapi kenyataan dan memulai lembaran kehidupan baru.   Kawan, begitu banyak duka yang tersimpan. Tak kan cukup ratusan halaman untuk menuliskannya. Namun satu yang pasti, sebagai mahluk yang Allah karuniakan segalanya, tak pantas rasanya jika kita tidak bersyukur akan semua nikmat yang telah kita rasakan. Nikmat sehat, nikmat memiliki keluarga, nikmat memiliki pekerjaan walau mungkin penghasilan tak seberapa, nikmat memiliki anak, nikmat memiliki orang-orang yang kita sayangi. Dan sesungguhnya lah rasa syukur itu harus ada pembuktian. Pembuktian yang mungkin kadang berat, namun harus dilatih dan dipaksa. Buktikan bahwa kita bisa memberikan harta terbaik bagi manusia lain yang tengah membutuhkan. Rela berbagi kasih sayang, perhatian, cinta dan kasih bagi mahluk yang lebih lemah, yang tengah Allah uji dengan segala kesulitan. Sebelum segala sesuatunya terlambat, ketika sudah tak ada lagi kesempatan, ketika nafas sudah berada di ujung tenggorokan. Sungguh, segala sesal tak kan lagi berguna.. Indah Prihanande (Direktur Laz Harfa)

Tinggalkan Balasan