32

SINERGISITAS UNTUK MEREKA YANG TERHEMPAS

LAZ HARFA Banten sebagai lembaga amil zakat yang amanah terus melakukan kerja-kerja sosial dan kemanusiaan dalam rangka menggugah kepedulian khususnya bagi mereka yang tengah diberikan ujian berupa bencana alam, melalui program Aksi Peduli Korban Bencana. Di sisi lain, lembaga yang sudah hampir 12 tahun berkiprah ini membiasakan membangun jaringan, silaturahim, dan bekeja tim. Hal demikian dilakukan karena HARFA meyakini banyak hal yang tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri, dapat dituntaskan dengan cara gotong royong.

Oleh karena itu, HARFA terus melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak baik perorangan maupun lembaga/instansi untuk mewujudkan harapan masyarakat sesuai dengan motonya, Menggugah Peduli Mewujudkan Harapan. HARFA hadir sebagai lembaga yang menjembatani individu atau korporasi dalam menjalankan kewajiban sosialnya mewujudkan kepedulian bagi korban bencana. Dalam hal ini, HARFA berperan sebagai mediator antara donatur dan calon penerima manfaat perihal penyaluran bantuan kemanusiaan kepada yang berhak.

Salah satu bentuk kolaborasi dan sinergisitas ini telah ditunjukan HARFA dalam aksi peduli bencana di Banten bersama LAZIS PLN. Sinergisitas ini dilakukan sebagai wujud kepedulian dan kepihatinan terhadap korban bencana banjir dan longsor yang terjadi di Banten, khususnya di Desa Sindangmandi dan Desa Tanjungmanis Kecamatan Anyer Kabupaten Serang pada akhir bulan Juli 2016 lalu. Bentuk bantuan yang diserahkan yaitu triplek dan kaso, selang air 600 meter, satu set kompor (kompor satu tungku, LPG 3 kg, dan selang regulator), dan tikar mendong. Bantuan yang diserahkan pada tanggal 18 Agustus 2016 ini telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Sebelumnya, HARFA mendampingi LAZIS PLN untuk melakukan survey lokasi bencana dan berdialog langsung dengan masyarakat setempat sebagai calon penerima manfaat terkait kondisi lingkungan dan jenis kebutuhan mereka yang mesti diprioritaskan. Berdasarkan pengakuan warga, mereka tengah membutuhkan barang-barang kebutuhan seperti yang telah disebutkan. Banjir dan longsor yang melanda tempat mereka memang menghanyutkan barang-barang yang ada di dalam rumah, termasuk barang-barang tersebut. Melalui komunikasi dan sinegisitas yang terus dibangun pasca survey dengan LAZIS PLN sebagai mitra HARFA, akhirnya keinginan masyarakat tersebut dapat terwujud.

Kegiatan sosial yang diselenggarakan di tempat terisolir ini dihadiri oleh Direktur LAZ HARFA Banten, Ust. Mulyadi, S.Ag., General Manager LAZIS PLN, Bpk. Rian, dan Kepala Desa Sindangmandi, Bpk. Ibnu Akil. Ketiganya bersama dengan perwakilan penerima manfaat dari masyarakat setempat menandatangani berita acara penyerahan bantuan usai menyampaikan sambutan kepada warga yang hadir pada kegiatan ini. Bantuan untuk 80 kepala rumah tangga yang tersebar dalam dua desa ini diberikan secara simbolis kepada beberapa penerima manfaat di tempat acara. Selanjutnya, bantuan akan disalurkan langsung oleh tim relawan HARFA kepada yang berhak berdasarkan data yang sudah ada.

Dalam perjalanan menuju lokasi, aksi ini sempat terkendala dengan guyuran hujan yang dikhawatirkan terjadi longsor kembali. Rombongan berangkat dengan mengendarai mobil. Beberapa relawan HARFA mengendarai sepeda motor di posisi depan sebagai pemandu untuk sampai ke lokasi. Butuh kehati-hatian dalam menyusuri jalan yang terjal berbatu dan tikungan yang tajam. Hujan yang cukup deras membuat beberapa titik jalan licin. Aliran deras air hujan terjadi di dua lokasi longsoran yang harus dilewati rombongan untuk sampai ke tujuan. Hal ini mengharuskan relawan untuk turun ke jalan, memastikan kondisi jalan agar bisa dilewati kendaraan yang membawa rombongan.

Akhirnya, dengan pertolongan Allah melalui kesigapan dari tim relawan, kendaraan yang membawa rombongan dapat melewati bekas longsoran yang terguyur hujan dan tiba di lokasi dengan selamat. Aksi yang selesai pada pukul 14.30 ini berjalan dengan lancar. Warga korban banjir dan longsor sebagai penerima manfaat bantuan ini berterimakasih kepada donatur dan HARFA sebagai lembaga sosial lokal yang sudah menjembatani para dermawan untuk memberikan kepedulian dengan mewujudkan keinginan mereka melalui bantuan tersebut. Ke depan, HARFA terus bergerak membangun sinergisitas dengan berbagai pihak untuk peduli terhadap mereka yang tengah terhempas oleh kerikil-kerikil kehidupan. [mj]

 

LAGI, HARFA BERSAMA GEPPUK MENDONGENG UNTUK KORBAN BENCANA

Tiada hal yang lebih bermakna selain berbagi. Berbagi kepedulian bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan dan perhatian dari kita. Tak terkecuali bagi korban banjir dan longsor di beberapa daerah Banten yang terjadi akhir bulan Juli 2016 lalu. Musibah ini telah meninggalkan duka bagi para korban meski tidak sampai merenggut nyawa. Terlebih bagi anak-anak yang usianya masih belia. Mereka harus menelan pengalaman pahit yang telah membawa bayangan hitam di masa bermainnya. Mereka turut menyaksikan peristiwa menegangkan dan meresahkan. Peristiwa yang menghilangkan keceriaan dan kegembiraan untuk beraktualisasi dalam lingkaran usianya layaknya anak-anak kecil lainnya yang bebas dari terpaan bencana.

HARFA terus berupaya menghimpun donasi, menyalurkan bantuan, dan melakukan pemulihan di lokasi bencana di Banten. Salah satu aksi pemulihan pasca bencana ditujukan untuk anak-anak yaitu dengan melakukan pemulihan kondisi psikologis anak-anak pasca banjir dan longsor yang telah menimpa mereka. Aksi ini sebagai bentuk kepedulian bagi anak-anak yang terkadang jarang tersentuh dan luput dari perhatian, terutama yang berkaitan dengan kondisi psikologis mereka yang juga harus mendapat perhatian yang lebih. Bagaimana pun, rekaman bencana tersebut telah menimbulkan  trauma bagi anak.

Kegiatan pemulihan kondisi psikologis anak-anak korban bencana ini dikemas dalam bentuk dongeng. Bersama Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan (GePPuK) dan Himpunan PAUD Jakarta, HARFA menyelenggarakan kegiatan mendongeng untuk anak-anak di Kp. Sukajadi RT 02/03 Ds. Anyar Kec. Anyar Kab. Serang pada tanggal 13 Agustus 2016 Bertempat di SD Negeri Anyar 5. Tim HARFA dan mitra (GePPuK dan HimPAUD Jakarta) tiba di lokasi sekitar pukul 11.50 wib dan disambut baik oleh pihak sekolah. Anak-anak juga turut menyambut dengan riang dan menyibukan diri untuk membantu mengangkut bantuan untuk sekolah berupa pakaian, seragam sekolah, dan perlengkapan sanitasi seperti sabun, sampo, sikat gigi, dan pasta gigi.

Selang beberapa menit, anak-anak berkumpul rapi di dalam kelas dan bersiap-siap mendengarkan dongeng yang akan dibawakan oleh Kak Samsul, salah satu personil GePPuK yang akan unjuk gigi, mendongeng di depan anak-anak. Sebelum mendongeng, Kak Samsul menciptakan suasana keakraban dengan perkenalan, jargon, dan games. Kemudian anak-anak diajak untuk bernyanyi bersama-sama dengan riang gembira. Tepukan dan teriakan anak-anak yang ikut bernyanyi menambah suasana ruangan menjadi ramai dan meriah. Guyonan yang dibuat Kak Samsul dalam nyanyiannya mampu membuat gelak tawa yang ceria dari orang-orang yang masih belia tersebut. Orang tua anak dan guru yang turut menyaksikan dari balik jendela kelas juga tak dapat menahan tawa.

Selanjutnya, Kak Samsul memulai mendongeng. Dongeng tentang sanitasi, bagaimana menerapkan cara hidup bersih dan sehat. Dengan menggunakan boneka dongeng yang dipasang di tangan, Kak Samsul mampu menghibur anak-anak yang tengah berduka tersebut. Mulai dari gerak-geriknya, mimik wajahnya, dan suaranya yang dibuat berbeda, Kak Samsul mengajak anak-anak ngobrol dengan boneka dongeng dan mendengarkan setiap nasihat yang diucapkan oleh boneka tersebut yang tak lain adalah suara dari Kak Samsul sendiri. Hal tersebut mampu menghipnotis anak-anak untuk terus menyaksikan dongeng hingga tuntas tanpa bosan. Kepiawaian Kak Samsul dalam mendongeng membuat anak-anak larut dalam dongeng yang dibawakannya.

Kegiatan yang berlangsung lebih dari satu jam ini merupakan kali kedua setelah kegiatan mendongeng yang dilaksanakan di Kp. Babakan Ds. Cikedung Kec. Mancak Kab. Serang beberapa hari yang lalu. Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 13 Agustus ini juga berhasil memberikan kesan yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka tak lagi bermuram durja akibat bencana yang menimpa kampung halamannya. Senyum ceria telah nampak dibalik muka polosnya. Acara mendongeng ditutup dengan penyerahan bantuan pakaian dan perlengkapan sanitasi. Selanjutnya, Tim HARFA, mitra, dan pihak sekolah berfoto bersama di depan kelas. [mj]

00

HARFA BERSAMA GEPPUK MENDONGENG UNTUK KORBAN BENCANA

Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Banten akhir bulan Juli yang lalu tidak hanya menyisakan nestapa bagi orang tua, tapi juga anak-anak. Anak-anak telah menyaksikan gusaran air hujan yang deras dan menggenangi kampung halaman mereka. Gemuruh longsor yang telah merusak rumah dan lingkungan telah menjadi ingatan buruk baginya. Anak-anak kehilangan tempat bermain yang asyik karena dipenuhi dengan pemandangan yang tidak menyenangkan dan tidak sedap dipandang.

Kejadian ini tentu menimbulkan goresan hitam di benak anak-anak. Bagaimana mereka harus menghadapi tamu tak diundang tersebut di usia dengan tingkat psikologis yang masih rentan. Banjir dan longsor yang terjadi bisa saja menggangu kondisi psikologis anak-anak yang mengalaminya. Oleh karena itu, anak-anak perlu diberikan perhatian khusus, utamanya dalam hal pemulihan kondisi psikologis mereka pasca bencana.

HARFA yang sudah berjibaku memberikan bantuan korban di lokasi banjir sejak hari pertama terus melakukan pemulihan. Tidak hanya memberikan perhatian kepada orang dewasa dengan menyalurkan bantuan dari para donatur, lembaga yang dipimpin oleh Ust. Mulyadi, S.Ag. ini juga memberikan sentuhan cinta kepada anak-anak korban banjir dengan melakukan pemulihan kondisi psikologis agar dunia mereka tercipta kembali meski telah merasakan pengalaman yang pahit.

Kegiatan pemulihan kondisi psikologis anak-anak korban banjir ini dikemas dalam bentuk dongeng. Bersama Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan (GePPuK) Jakarta, HARFA menyelenggarakan kegiatan mendongeng untuk anak-anak di Kp. Babakan Ds. Cikedung Kec. Mancak Kab. Serang, bertempat di SDN Cikedung. Tim HARFA dan Tim GePPuK tiba di lokasi sekitar pukul 11.30 setelah melakukan perjalanan naik turun bukit yang kondisinya terjal dan curam. Perlu kehati-hatian agar kendaraan yang ditumpangi tidak tergelincir ke bawah dan masuk ke jurang. Butuh waktu sekitar satu jam dari pasar Mancak untuk tiba di tempat yang terisolir ini.

Setibanya di lokasi, tim disambut baik oleh pihak sekolah. Setelah beberapa menit berbincang-bincang dengan guru dan kepala sekolah, Tim pendongeng dari GePPuK, yaitu Kak Dwi dan Kak Rian mendongeng di hadapan anak-anak yang sudah berkumpul berbanjar di teras kelas. Sebelum mendongeng, Kak Dwi menciptakan suasana keakraban dengan perkenalan dan games. Kemudian anak-anak diajak untuk bernyanyi bersama oleh Kak Rian dengan riang gembira, diiringi dengan musik digital. Tepukan dan teriakan anak-anak yang ikut bernyanyi menambah suasana sekolah menjadi ramai dan meriah. Guyonan yang dibuat Kak Rian dalam nyanyiannya mampu membuat gelak tawa yang ceria dari orang-orang yang masih belia tersebut.

Selanjutnya, giliran Kak Dwi yang unjuk gigi di depan anak-anak untuk memulai mendongeng. Dongeng tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan perlengkapan mendongeng seperti boneka, Kak Dwi mampu menghibur anak-anak yang tengah berduka tersebut. Mulai dari gerak-geriknya, mimik wajahnya, dan suaranya yang dibuat bermacam-macam jenis suara, seperti suara anak kecil, suara binatang, suara raksasa, dan lain-lain mampu menghipnotis anak-anak untuk terus menyaksikan dongeng hingga tuntas. Kepiawaian Kak Dwi dalam mendongeng membuat anak-anak larut dalam dongeng yang dibawakannya.

Kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam ini memberikan kesan yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka tak lagi bermuram durja akibat bencana yang menimpa kampung halamannya. Senyum ceria telah nampak dibalik muka polosnya. Acara mendongeng ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama. Selanjutnya Tim HARFA dan GePPuK menyerahkan bantuan berupa tas dan alat-alat tulis kepada sekolah untuk dibagikan kepada siswa-siswinya. [mj]

9

BANK SAMPAH HARFA, LINGKUNGAN TERAWAT RUPIAH TERCATAT

Bukan besarnya dana untuk menyukseskan sebuah program lingkungan bersih. Bukan pula ketersediaan fasilitas yang serba ada untuk mengubah perilaku hidup bersih pada masyarakat, terutama mereka yang berada di tempat-tempat yang jauh dari pusat keramaian yang notaben nya masih awam tentang kebiasaan menerapkan pola hidup bersih.

Tapi, perlu strategi yang jitu dan cara-cara unik agar persepsi dan argumentasi kita dapat diterima oleh masyarakat sehingga gagasan-gagasan persuasif kita bisa dilakukan oleh masyarakat yang tak lain dalam rangka mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Kiranya, itu yang dilakukan HARFA dalam upaya membiasakan perilaku hidup bersih pada desa-desa dampingan. Salah satunya melalui program Bank Sampah.

Yah. Bank Sampah. Cara unik yang dilakukan HARFA agar desa yang didampingi bebas dari sampah. Agar warga tidak membuang sampah sembarangan. Bank Sampah sebagai pengepul sampah-sampah rumah tangga yang dikumpulkan oleh warga, mulai dari plastik kemasan, botol, kertas dan dus, barang berat, dan sejenisnya yang mereka pilah sendiri dan kemudian ditimbang. Hasilnya tidak dibayarkan secara langsung, tetapi menjadi tabungan nasabah sampah yang akan dibagikan menjelang lebaran.

Memang unik. Dengan cara unik ini, HARFA berhasil mengubah pola dan paradigma masyarakat tentang sampah. Dari barang yang tak berharga dan menyebalkan yang bisa mereka buang dengan tangan ringan, kini untuk membuangnya mereka harus berpikir berulang kali. Mereka lebih memilih untuk “merawat” dan memilahnya agar menjadi kepingan rupiah.

“Perubahan adalah sebuah keniscayaan dan sebaiknya di mulai dari hal yang terkecil dan mulai dari diri sendiri dan lingkungan, semoga Bank Sampah ke depan semakin maju dan ada relawan yang turut berkontribusi untuk masyarakat dalam memberikan pelatihan kerajinan yang terbuat dari barang bekas seperti bekas kopi, bekas rinso, dan sejenisnya menjadi kerajinan tas, tempat tisu dan lain-lain sehingga menjadi sesuatu yg bernilai uang”, ujar Ii Irfan, perwakilan management HARFA.

Dalam satu tahun ini Bank Sampah Harfa telah berhasil mengedukasi, menyadarkan dan mengkoordinasi masyarakat untuk menanggulangi sampah di khususnya di Kabupaten Pandeglang. Sebanyak hampir 40 unit terbentuk di berbagai tempat yang dikelola mandiri oleh warga setempat. Sepanjang satu tahun ini juga telah berhasil menyelamatkan sampah sebanyak 33,7 ton, dan masyarakat dapat memiliki penambahan pendapatan dalam bentuk tabungan senilai Rp.40 juta. Jumlah dan nominal yang menakjubkan bagi ukuran masyarakat desa yang tingkat perekonomiannya menengah ke bawah.

Sejak dibentuknya Bank Sampah HARFA, masyarakat merasakan manfaat dan perubahan yang terjadi pada keluarga mereka, mulai dari berkurangnya barang barang yang tidak berguna di rumah sampai kepada kesadaran pada anak-anak yang turut menciptakan lingkungan yang bersih dengan mengumpulkan dan memilah bungkus makanan jajanan mereka, tidak dibuang lagi secara sembarangan di kebun atau di selokan. Kesadaran ini mereka mulai  dari keluarga sendiri dan hal-hal yang terkecil. Kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah serta mendatangkan penghasilan tambahan bagi mereka. Dengan begitu, lingkungan masyarakat menjadi terawat, rupiah pun tercatat sebagai simpanan atau tabungan. [mj]

BULIR CINTA UNTUK NESTAPA DI KAMPUNG TERISOLIR

Banjir bandang yang terjadi di Banten masih menyisakan derita bagi para korban. Meski tak sampai merenggut nyawa, banjir telah melenyapkan harta benda korban. Bahkan, beberapa korban banjir telah kehilangan rumah yang roboh dan hanyut terbawa air. Hanya puing-puing bangunan dan peralatan rumah tangga yang berserakan di pelataran rumah, entah milik siapa.

Banjir bandang yang juga melanda di daerah terisolir di kaki gunung, diperparah dengan terjadinya longsor dari gunung. Longsor yang membawa material-material lumpur, bebatuan, dan gelondongan kayu telah merusak bahkan menghancurkan bangunan yang berada di kaki gunung.

Seperti yang terjadi di Kp. Pasir Menteng Ds. Cikedung Kec. Mancak Kab. Serang, Banten. Pemukiman yang cukup terisolir ini diterjang longsor dan banjir. Kondisi rumah warga memprihatinkan. Pintu dan jendela hancur diterjang banjir dan longsor. Barang-barang yang ada di rumah hanyut. Bahkan beberapa rumah rata dengan tanah, tertimbun lumpur, bebatuan, dan material longsor lainnya. Selang saluran air sebagai sarana untuk mendapatkan air bersih juga tak luput dari dampak bencana ini.

Belum banyak bantuan yang datang mengingat pemukiman ini sulit dijangkau. Butuh berjalan kaki sejauh 7 kilometer atau sekitar lebih dari satu setengah jam untuk sampai ke tempat ini dari tempat terakhir yang bisa dijangkau kendaraan. Kondisi tersebut tak menyurutkan Tim Relawan HARFA untuk tetap memberikan kepedulian bagi korban di daerah yang berbatasan dengan salah satu kampung di Kec. Cinangka tersebut..

Tim Relawan HARFA mengawal logistik berupa sembako, pakaian, dan selang air yang merupakan titipan dari donatur yaitu peserta BIMTEK pendidikan keluarga, Kepsek SMP RJ, dan Ketua LKP 3G ke lokasi bencana untuk perbaikan sarana air bersih yang tak berfungsi karena tertutup lumpur.

Setelah melewati hutan dengan 14 titik longsoran, akhirnya tim relawan tiba di lokasi dan singgah di sebuah majlis taklim sederhana yang biasa dipakai untuk pengajian. Aksi ini memberikan pengalaman kepada tim HARFA untuk melihat kondisi rill korban bencana. Akses jalan tertutup tanah dan pohon yang tumbang dari atas gunung. Tiang listrik bertegangan tinggi yang ada di kaki gunung pun roboh.

Bantuan diserahkan kepada warga melalui ketua RT dan Ustadz setempat. Selanjutnya, Ketua RT dan tokoh masyarakat bersama warga akan gotong royong memperbaiki saluran air bersih dengan menggunakan selang air baru hasil sumbangan donatur HARFA (peserta bimtek). Selang ini digunakan untuk mengambil air dari sumber mata air yang berjarak 800 meter dari kampung dan berada diatas bukit.