Karena Cinta tidak boleh membutakan

‘Atikah binti Zaid, Karena Cinta Tidak Boleh Membutakan

Abdullah bin Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma baru saja melangsungkan pernikahan dengan wanita yang dicintainya, ‘Atikah binti Zaid bin Amru’. Seorang wanita Quraisy yang terkenal dengan kecantikan dan kepandaiannya bersyair. Sedang Abdullah, ia putra orang mulia As-Shiddiq Abu Bakar dan ia juga seorang pujangga.

Mereka sungguh pasangan yang lekat tak bisa dipisahkan. Setiap waktu selalu menghabiskan waktu berdua. Di rumah, di ladang, di pasar, kemanapun mereka berjalan tak pernah melepaskan gengaman tangan.

Namun Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu justru khawatir dengan keadaan puteranya. Setelah menikah, Abdullah tidak begitu peduli dengan pekerjaan dan kebunnya, bahkan ia tidak ikut berperang bersama Rasulullah Saw. Abdullah seakan tenggelam dalam keasyikan memadu cinta dengan istrinya ‘Atikah, bercumbu dan bermesraan seakan tidak ada urusan dengan selainnya. Abu Bakar pun berkali-kali menasihati Abdullah agar jangan sampai cintanya melalaikan urusan lain.

Suatu ketika, Abu Bakar As-Shiddiq tergesa-gesa melewati rumah Abdullah ketika ia hendak pergi shalat Jum’at. Ketika itu Abu Bakar mendengar Abdullah dan istrinya masih bercumbu rayu dikediaman mereka, namun ia tak sempat menegur karena takut tertinggal shalat Jumat. Sepulang shalat Jum’at, ia kembali ke rumah Abdullah untuk bertamu namun ia kaget karena Abdullah masih saja bercumbu rayu dengan ‘Atikah.

“Hei Abdullah!! Apakah kamu sudah shalat Jum’at?” teriak Abu Bakar didepan pintu.

Abdullah kaget mendengar teriakan ayahnya, rasanya baru sebentar ia bercumbu dengan istrinya. Lantas bertanya balik: “Memangnya orang-orang sudah shalat Jum’at??”

“Iya… dan sungguh ‘Atikah telah menyibukkanmu dari shalat dan kewajiban lain. Ceraikanlah dia!” perintah Abu Bakar dengan penuh kemarahan.

Seperti tersambar petir di siang bolong, hati Abdullah terkejut dengan jawaban sang Ayah. Ia sadar, sudah banyak kewajiban yang ia tinggalkan, urusan yang ia terlantarkan dan hal lainnya yang ia abaikan dikarenakan rasa cintanya kepada sang istri. Sambil menahan kesedihan, kedua sejoli itu berpisah dengan ucapan talak dari Abdullah yang menaati perintah sang ayahanda.

Abdullah bin Abu Bakar, akhirnya ia rujuk kembali dengan ‘Atikah setelah ayahnya iba mendengar puisi yang dibuatnya dalam kesendirian. Tetapi Abdullah telah mengambil sebuah pelajaran bahwa cinta tidak boleh membutakan manusia. Abdullah menemui syahidnya dalam Perang Thaif di masa Abu Bakar, lalu ‘Atikah menikah dengan Umar bin al-Khattab lalu Zubair bin al-Awwam yang kesemuanya itu syahid. ‘Atikah lalu menjanda dan ia dikenal sebagai istri para syuhada.

Dalam sejarah, ‘Atikah dikenal sebagai ahli ibadah. Dia adalah istri Umar yang selalu shalat berjamaah di masjid walaupun wanita lebih utama untuk shalat di rumah tetapi Umar tidak melarangnya dikarenakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid-Nya.” Namun ketika ‘Atikah menikah dengan Zubair bin Awwam ia tidak lagi shalat berjamaah di masjid karena ia hendak menjaga perasaan Zubair yang pencemburu.  Wallahu ‘alam bishowab.

sumber : ummi-online.com

Komentar

Comments (0)

Write a Comment